Banjarnegara : Dawet Ayu Banjarnegara dan Sejarahnya

Purwokerto-BanjarnegaraHari Sabtu kemarin sehabis Sholat Dhuhur kami jalan-jalan dengan motor ke kabupaten Banjarnegara. Rute perjalanan dari Purwokerto ke kabupaten yang ber-slogan gilar-gilar itu kami menggunakan jalur Purwokerto – Sokaraja – Purbalingga – Banjarnegara. Kami sengaja melewati jalan utama dan menghindari jalan alternatif karena selain tidak tahu jalan alternatif, juga karena kami ingin melihat situasi daerah jalan besar di sana, aktifitas penduduknya, keramaian yang terjadi, dan hal-hal lain di tempat yang kami lewati. Penunjuk jalan yang kami gunakan hanyalah penunjuk jalan disamping jalan dan juga peta Google Map melalui Blackberry seperti yang kami gunakan ketika kami jalan-jalan ke Cilacap beberapa waktu yang lalu. Ternyata jarak Purwokerto sampai ke Banjarnegara ini lumayan jauh juga. Hal ini dapat diketahui dari perkiraan jarak di Google Map. Jadi saat itu ketika sampai di Purbalingga, kami sempat mengecek di Google Map untuk melihat rute jalur rekomendasi Google Map yang memanfaatkan fitur GPS pada Blackberry Javelin dan di situ perkiraan jaraknya sekitar 44 Km, sementara jarak antara Purwokerto ke Purbalingga sendiri sekitar 10 Km. Jadi total jarak Purwokerto ke Banjarnegara adalah sekitar 54 Km. Alhasil perjalanan tersebut kami tempuh dalam waktu sekitar dua jam tepat ketika kami sampai di alun-alun Kabupaten Banjarnegara. Di sana, kami kemudian istirahat sebentar meluruskan kaki sambil melancarkan peredaran darah kembali sehabis perjalanan jauh di salah satu tempat makan yang merupakan rekomendasi dari salah satu teman kami yaitu kedai Woeloeng sambil menanti Adzan tanda waktu sholat Ashar.

 

Dawet Ayu BanjarnegaraDi sela-sela istirahat itu, kami browsing via Blackberry untuk mencari apa saja makanan khas Banjarnegara dan ternyata makanan khasnya mirip-mirip dengan Purwokerto kecuali untuk minuman legendarisnya yang sudah terkenal ke seantero nusantara sekaligus menjadi semacam icon identik yang melekat pada Kabupaten Banjarnegara yaitu Dawet Ayu Banjarnegara. Dari hasil searching dan bertanya ke beberapa teman serta juru parkir yang kami temui di sana, kami memperoleh kesimpulan bahwa penjual Dawet Ayu yang terkenal dan merupakan cikal bakal “Dawet Ayu” itu terletak di jalan Dipayuda sebelah terminal lama. Untungnya lagi ternyata jalan Dipayuda tersebut tidak jauh dari alun-alun Banjarnegara. Oleh karena itu, setelah Sholat Ashar di Masjid Agung An Nur yang terletak di seberang alun-alun tersebut, kami segera meluncur menuju ke warung dawet ayu yang terletak di jalan Dipayuda. Sesampainya di sana kami memesan dua buah dawet. Dawet tersebut disajikan dalam gelas minuman dengan opsi default ditambah es batu. Saat itu saya memesan dawet ayu yang tanpa es. Isi utama dawet tersebut sepertinya cuma cendol saja dengan cairan khas dawet wangi pandan sebab kami tidak melihat adanya buah nangka yang biasanya juga ada pada sajian dawet di tempat lain diluar Banjarnegara. Saat kami ke sana sekitar jam 15.30 tersebut di sana tidak terlalu ramai dan ada sekitar empat pengunjung yang juga sedang menikmati Dawet.

Oya ngomong-ngomong tentang Dawet Ayu, dari search di internet dibeberapa artikel yang antara lain di sini , konon katanya sejarah kata “ayu” dalam Dawet Ayu Banjarnegara bermula ketika adanya grup lawak yang dahulu sangat terkenal di wilayah eks karesidenan Banyumas yang sempat manggung di Banjarnegara dan kemudian sempat mecicipi dawet yang terletak di Jalan Dipayuda itu. Karena terkesan dengan rasa dawetnya yang enak dan segar serta penjualnya yang ayu sehingga menginspirasi terciptanya lagu gaya Banyumasan yang berjudul Dawet Ayu Banjarnegara. Grup lawak dan lagu itulah yang salah satunya ikut andil dalam mempopulerkan dawet ayu hingga ke berbagai daerah. Dari search di google yang salah satunya di sini dan di sini didapat informasi juga bahwa salah satu ciri khas penjual dawet ayu Banjarnegara adalah adanya dua buah tokoh wayang pada gerobaknya. Tokoh wayang itu adalah Semar dan Gareng. Ada yang meyebutkan bahwa itu adalah simbolisme dari gabungan kata keduanya yaitu MARENG yang dalam bahasa setempat berarti kemarau. Mar dari seMAR dan reng dari GarENG. Jadi mungkin maksudnya kalau musim kemarau itu kan panas dan haus, maka minumnya yang segar ya dawet ayu atau bisa juga itu adalah simbolisasi dari penjual yang menginginkan cuaca dalam kondisi kemarau sehingga dawetnya bisa laris. Sebagian yang lain seperti di sini menduga bahwa adanya dua tokoh wayang yang identik dengan sifatnya yang merakyat itu maksudnya adalah simbol bahwa dawet ayu tersebut selalu merakyat dan dapat dinikmati oleh semua golongan lapisan masyarakat. Setelah menikmati dawet ayu tersebut, sekitar jam 16 an kemudian kami kembali ke Purwokerto supaya tidak terlalu gelap saat di jalan.

Berikut adalah video yang diupload seseorang di youtube tentang sudut-sudut Kabupaten Banjarnegara.
httpv://www.youtube.com/watch?v=RFKnd_i83bo

Andhy

I like making good quality improvement both for my self and my surroundings. I also enjoy learning something new and sharing my thought with other people.

You may also like...

14 Responses

  1. Banjarnegara says:

    Wah mantab!
    Dawet ayu emang jos!
    8)

  2. pemula says:

    Bisa pesen online dak bos? :-D

  3. luveas.com says:

    :-| wow keren kk blognya

    itu petanya dari bb ya :)

  4. C-mim says:

    Cewex2′a cntik2 g bos? Heee

  5. hebat banget ya, kini dawet ayu sudah menjadi akrab di kehidupan kita dengan banyaknya pedagang yang berjualan di berbagai kota besar. :wink:

  6. dawet ayu suegernya pol…. :-D

  7. Dandung irfandani says:

    :wink: :wink: segerrr

  1. March 17, 2011

    [...] sekarang ada di mana. Contoh penggunaan lainnya adalah saat traveling naik motor ke Cilacap dan ke Banjarnegara yang benar-benar tidak tahu jalan dan hanya berdasar penunjuk jalan di pinggir jalan dan arah di [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>