Bukittinggi : Jam Gadang & Taman Panorama

Ngarai Sianok, Taman PanoramaMenyambung posting sebelumnya, selain ke Lembah Harau, kami juga menyempatkan mampir ke Kota Bukittinggi. Bukittinggi hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Lembah Harau. Udara di Bukittinggi sejuk dan bersih mirip udara Kota Bandung di jaman dahulu. Di Bukittinggi, kami menyempatkan mengunjungi Taman Panorama dan Jam Gadang. Taman Panorama adalah sebuah taman kecil di pinggir jalan di samping salah satu ngarai terkenal yang pernah menjadi gambar uang seribu rupiah jaman dahulu yaitu Ngarai Sianok. Saat kami ke sana, di taman tersebut banyak terdapat kera yang berada di sisi pagar yang berbatasan dengan ngarai. Di Taman Panorama tersebut selain Ngarai Sianok, terdapat juga Goa bungker pertahanan bekas tentara Jepang yang disebut dengan Lobang Jepang.
Menurut guide kami, Lobang Jepang adalah saksi bisu kejahatan Jepang pada masa perang dunia ke dua dimana mereka menggunakan para pekerja paksa, romusha untuk membangun terowongan tersebut. Para pekerja paksa tersebut didatangkan dari daerah lain seperti dari Jawa dan daerah lain selain Bukittinggi guna menghindari terbongkarnya kerahasiaan terowongan tersebut. Untuk masuk ke terowongan tersebut dari Taman Panorama, kita harus menuruni anak tangga sekitar seratus tiga puluh lima anak tangga yang total tingginya sekitar 40 meter bila diambil garis tegak lurus dari permukaan tanah. Panjang total trowongan tersebut mungkin lebih dari 1 Km dengan berbagai ruang yang dulu ditujukan untuk digunakan berbagai keperluan Jepang. Terowongan tersebut ternyata belum sempat digunakan secara aktif oleh Jepang karena Jepang sudah menyerah terlebih dahulu kepada Sekutu setelah Nagasaki dan Hiroshima di bom atom oleh sekutu. Selain Lubang Jepang, di sudut kanan Taman Panorama, setelah melewati kios-kios souvenir, terdapat pos untuk pengamatan Ngarai Sianok. Di sana dibangun semacam pos pengamatan dari besi yang agak menjulang tinggi dua tingkat. Saat kami ke sana, sebagian besi sudah berkarat dan tampak tidak terurus, namun hal itu tidak mengurangi keberanian kami untuk naik ke pos pengamatan tersebut :-) . Secara garis besar dan melihat kondisinya, Taman Panorama ini kok menurutku hanyalah taman kota biasa seperti halnya taman Balekambang yang ada di Solo namun dengan bonus pemandangan beberapa ngarai dan Lobang Jepang. Pemandangan Ngarai nya pun masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan pemandangan Lembah Harau.

Jam gadangDari Taman Panorama, kemudian kami menuju ke Jam Gadang. Jam Gadang adalah sebuah menara dengan di atasnya terdapat empat buah jam yang merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur atau pemimpin kota Bukittinggi jaman pendudukan Belanda. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, Jam Gadang tersebut menjadi icon kota Bukittinggi sampai sekarang. Keempat Jam yang ada di Menara tersebut berdiameter 80 cm dengan latar belakang putih sementara tulisan angka dan jarum penunjuknya berwarna hitam. Keunikan yang ada di Jam Gadang adalah angka 4 yang dalam tulisan Romawi seharusnya ditulis dengan IV namun di jam tersebut ditulis dengan IIII. Mungkin karena kesalahan inilah Jam tersebut tidak digunakan sendiri oleh Ratu Belanda dan kemudian menghadiahkan Jam tersebut ke Bukittinggi. He..he..he..*bercanda*. Berkaitan dengan penulisan angka romawi 4 pada jam, para ahli sejarah memang masih saling berbeda berpendapat tentang penulisan angka 4 pada jam apakah IV atau IIII seperti dijelaskan di sini. Jam tersebut juga mengeluarkan suara mirip suara lonceng “teng” setiap jamnya dengan jumlah suara yang dikeluarkan sesuai waktu penunjukkannya. Oya, di komplek taman sekitar menara Jam Gadang, terdapat banyak sekali pedagang kaki lima yang berjualan di sana baik malam maupun siang tetapi tidak menggunakan kios permanen. Meski menjadi icon kota Bukittinggi yang sudah pasti banyak dikunjungi wisatawan, namun di lokasi Jam Gadang tersebut sama seperti halnya Taman Panorama, yaitu tidak terdapat lokasi parkir khusus bagi yang membawa kendaraan apalagi Bus.
Di sebelah komplek Jam Gadang terdapat sebuah pasar. Awalnya kami mengira itu adalah semacam pasar seni yang menjual cindera mata khas Bukittinggi. Namun setelah kami masuk, ternyata itu adalah pasar umum untuk berbelanja kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Pusat DokumentasiDari Jam Gadang, kemudian kita kembali ke Bandara Minangkabau yang ada di kota Padang. Dalam perjalanan ke bandara, ketika sampai di Padang Panjang, kita mampir di Pusat Dokumentasi Minangkabau yang ada di Padang Panjang. Di Pusat Dokumentasi tersebut terdapat rumah khas Minangkabau lengkap dengan ukiran-ukiran khasnya yang ternyata memiliki arti sebagai perlambangan tertentu. Di dalam rumah tersebut digunakan untuk menyimpan arsip, silsilah, foto, dan semua hal yang berkaitan dengan budaya Minangkabau. Menurut guide kami, pusat dokumentasi tersebut memang didirikan dengan tujuan untuk melestarikan budaya Minang yang semakin hari mulai semakin banyak ditinggalkan dikarenakan banyak orang Minang yang merantau. Satu foto yang menarik perhatianku adalah foto menara Jam Gadang jaman dahulu sebelum atapnya diganti dengan model atap gonjong seperti sekarang. Kalau kita cari di internet, banyak orang menyebutkan atapnya berbentuk mirip atap klenteng, namun dari foto yang ada di pusat dokumentasi tersebut, atap Jam Gadang ternyata lebih mirip kubah masjid daripada atap klenteng. Demikian juga dengan guide kami juga mengatakan memang atap menara jam gadang sebelum diganti menjadi bentuk atap gonjong adalah berbentuk kubah masjid jadi bukan atap klenteng.
Selain bangunan utama rumah khas Minang, di sana yerdapat juga bangunan pendukungnya seperti bangunan kecil mirip lumbung padi sebagai penyimpan bahan makanan. Oiya, menurut info petugas di sana, rumah khas Minangkabau tersebut menurut cerita adalah rumah yang tahan gempa karena struktur bangunannya fleksibel dan dapat bergoyang namun kuat. Dibagian bawah rumah, pengunjung bisa juga mencoba baju adat Minang lengkap dengan aksesoris pakaiannya.
Setelah dari sana, kamipun kembali ke bandara Minangkabau yang berjarak sekitar satu setengah jam dari Padang Panjang.

Andhy

I like making good quality improvement both for my self and my surroundings. I also enjoy learning something new and sharing my thought with other people.

You may also like...

8 Responses

  1. semoga suatu saat saya bisa ke sana :-P

  2. wah lembah harau kayak difilm-film jepang ama avatar the legend of aang :) kereeeen

  3. salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia

  4. Andhy says:

    @Rojak is Reza, semoga bisa ke sana 8)

    @Muhammad Rahman Arif, iya, keren.

    @Pariwisata Lombok, semoga kedepan bisa masuk ke kategori tersebut

  5. Sukadi says:

    Saya baru sebatas tahu lewat gambar, pigin juga bisa lihat lansung jam gadang yang sudah jadi ciri khas kota itu.. :)

    Terimaaksih, mas

  6. alief says:

    wah.., semoga suattu hari nanti bisa kesana

  7. ndaroini says:

    indah sekali ya pemandanganya, sayangnya belum ada kesempatan kesana untuk menikmatinya secara langsung

  8. Andhy says:

    @Sukadi, Kapan-kapan silakan dicoba ke sana :)

    @Alief, Semoga bisa ya.

    @ndaroini, aslinya bisa lebih bagus atau bisa juga biasa saja :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>