Dubai : Surga Pecinta Belanja

Minggu lalu kami ke Dubai untuk tujuan training. Kami berangkat ke Dubai hari Sabtu sore dengan pesawat Garuda GA 88 dari Soekarno-Hatta international Airport dan tiba di Dubai International Airport hari Minggu sekitar jam dua pagi. Sebenarnya pesawat tersebut bertujuan ke Amsterdam namun transit dulu di Dubai. Perjalanan ke Dubai ditempuh dalam waktu kurang lebih delapan jam sementara beda waktu antara Dubai (GMT+4) dengan di Jakarta (GMT+7) adalah tiga jam dengan waktu Jakarta lebih cepat dari waktu Dubai. Setelah turun dari pesawat selanjutnya kita menuju gate cek pasport untuk cek paspor&visa, eye scan, dan di foto wajah. Jarak antara turun pesawat dengan Gate cek pasport itu lumayan jauh juga. Barulah setelah itu mengambil bagasi dan keluar dari Bandara melalui pintu yang khusus untuk naik taksi menuju hotel yang kami gunakan. Menurut info dari teman yang sudah lama bekerja di sana, taksi yang bagus adalah yang atasnya berwarna merah. Oleh karena itu, kita naik taksi itu. Entah karena jalanan kosong atau memang kebiasaan di sana seperti itu, driver taksi di sana cukup kencang memacu taksinya sampai 120 Km/Jam. Alhasil perjalanan dari bandara ke hotel yang kami tempati di wilayah Al Barsha cuma ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit saja.

Hotel yang kami gunakan dari luar tampak kecil namun ternyata besar juga di dalamnya. Wifi gratisannya hanya ada di lobi, namun untungnya coverage wifi gratisannya sampai ke kamar yang aku gunakan meski Low. Di hotel, saat sarapan pagi tidak pernah ada menu nasi. Menu sarapan kami biasanya kentang dengan paratha dan sosis serta roti-roti gaya oriental. Sedangkan makan siang di hotel barulah ada nasinya yang diseling-seling kadang ada nasi putih dan kadang ada nasi goreng dengan menu aneka olahan ikan, ayam, dan daging sapi khas Dubai. Cuaca di Dubai di siang hari sangat panas dengan suhu udara mencapai 45 derajat Celcius. Wow..hampir dua kali panasnya Jakarta. Untunglah pada siang hari kita selalu di dalam ruangan kelas karena acara kami dari pagi hingga sore hari adalah training. Barulah pada malam hari setelah jam tujuh malam, kami berani keluar untuk jalan-jalan. Kebetulan di dekat hotel yang kami gunakan ada Emirate Mall, salah satu mall besar di Dubai. Untuk menuju ke Emirate Mall dari hotel, kita cukup jalan kaki sekitar lima menit saja. Dari sini aku baru tahu kalau memang orang-orang di sana kalau nyetir mobil seperti seolah-olah sedang dikejar setan. Jadi selain jalannya padat kendaraan, nyetirnya juga kenceng-kenceng banget sehingga agak susah dan harus bersabar untuk sekedar menyebrang jalan meski menyebrangnya pada zebra cross. Beberapa pengendara ada juga yang berbaik hati berhenti untuk mempersilakan penyebrang lewat.

Bagi pecinta merek-merek pakaian branded terkenal dan mahal, Dubai mungkin salah satu surganya. Barang-barang branded di sana bisa sampai separuhnya harga barang branded yang ada di mall eksklusif di Jakarta karena pajak masuknya yang sangat rendah atau malah mungkin bisa ga ada kali ya. Namun karena aku terbiasa tidak membeli barang karena mereknya tetapi karena fungsi dasarnya yang disesuaikan dengan kenyamaan penggunaannya, maka meski harganya separuh harga Jakarta tetap saja harganya kurang rasional alias mahal menurutku *alesan ga punya uang*  :hammer:  :roll: .
Selain berisi toko-toko merek branded, supermarket dan foodcourt, di dalam Emirate Mall juga terdapat arena indoor ice ski yang cukup besar. Banyak anak-anak dan orang dewasa yang bermain-main di sana.
Dari dalam Emirate Mall, kita bisa menggunakan Metro (semacam kereta MRT kalau di Singapore atau kereta di Vienna), menuju ke Dubai Mall yang merupakan Mall terbesar di Dubai. Untuk naik Metro, kita harus membeli kartu Metro yang merupakan tiket elektronik. Saat itu, kartu baru harganya 20 AED yang sudah berisi balance 16 AED. Kartu ini bisa di top up untuk menambah balance(recharge). Setiap akan naik Metro, kartu ini harus di-tap-kan di pintu masuk menuju metro dan kemudian saat keluar juga harus di-tap-kan dipintu keluar. Jadi cara kerjanya memang mirip dengan kartu terusan MRT di Singapore. Untuk menuju Dubai Mall, setelah naik Metro maka harus diteruskan dengan naik Bus supaya tidak berjalan jauh. Untunglah elektronik tiket Metro tadi bisa digunakan untuk berbagai moda angkutan masal di sana. Caranya adalah dengan men-tap-kan kartu itu ke tempat yang disediakan di dalam bus. Saat mau keluar dari Bus, penumpang juga diharuskan men-tap-kan kartu nya lagi. Kalau ketahuan tidak men-tap-kan maka dendanya lumayan besar. Sekitar 200 AED kalo tidak salah. Bus di Dubai lebih bagus dari bus yang ada di Bratislava meski mirip konsep penggunaan tiketnya yaitu harus mentapkan tiket ke sistem bus.
Di dalam Dubai Mall terdapat juga semacam Sea World dan di samping Dubai Mall terdapat salah satu bangunan gedung yang termasuk jajaran gedung tertinggi di dunia yaitu Burj Kalifa. Di depannya ada kolam buatan besar yang pada malam hari setiap setengah jam sekali ada pertunjukkan air mancur yang bergerak diiringi musik tertentu. Waktu kami ke sana jam 9 malam, di sana banyak sekali turis yang memang sengaja menunggu atraksi air mancur tersebut. Sayangnya kameraku tertinggal di hotel saat aku ke sana sehingga hanya bisa mengabadikan lewat kamera Blackberry yang tentu saja gambarnya kurang bagus. Oya, yang membedakan mall di Dubai dengan mall ditempat lain adalah setiap waktu sholat tiba di sana dikumandangkan Adzan dan ada tulisan Praying Time dipapan elektronik di Mall nya. Waktu Sholat Dubai saat itu tidak berbeda jauh dengan waktu di Jakarta yaitu Subuh jam 4.42, Dhuhur jam 12.17, Ashar jam 3.46, Magrib jam 6.30, dan Isya’ jam 8.00. Selain itu di tiap Mall juga ada ketentuan harus berpakaian sopan di dalamnya.

Ga banyak yang sempat kami explore ketika di Dubai. Setelah lima hari di sana, kami pun kembali ke Jakarta dengan pesawa Garuda GA 89 yang berasal dari Amsterdam ke Jakarta namun transit di Dubai dulu. Bandara Dubai merupakan salah satu bandara terbesar di Dunia. Namun dari pengamatanku sekilas, bandara ini tidak terlalu sibuk jika dibandingkan dengan bandara Frankfurt di German atau bandara Singapore. Di Bandara tersebut juga tidak bisa check in kapan saja. Jadi Waktu check in hanya dibuka dalam rentang waktu beberapa jam dari keberangkatan saja. Saat itu kita sengaja datang ke bandara sekitar lima jam dari jadwal keberangkatan dengan tujuan supaya bisa jalan-jalan keliling di dalam bandara namun karena tidak bisa check in terlebih dahulu maka terpaksa hanya menunggu di depan tempat check in saja sampai check in counter di buka :!:  Barulah setelah check in kita bisa jalan-jalan di dalam bandara. Saat di Bandara Vienna dulu, kami bisa check in kapan saja bahkan tinggal check in by system cuma masukin booking code dan kursi yang diinginkan kemudian kita bisa keluar dan jalan-jalan ke kota atau jalan-jalan di dalam Bandara saja.
Well, ini adalah penerbanganku dengan Garuda(GA) pertama kali untuk ke/dari luar negeri. Penerbangan ke luar negeri yang biasa aku pakai adalah dari group Star Alliance, biasanya Singapore Airline (SQ) atau Lufthansa(LH). Dari pengalaman naik SQ, LH, dan GA, menurut pendapat pribadiku secara kualitas pelayanan, GA masih jauh bila dibandingkan dengan SQ, namun sepertinya masih bisa bersaing dengan LH. Yah semoga saja ini pendapat yang salah :roll:

Berikut video pertunjukkan air mancurnya yang ada di youtube:)

 

httpv://www.youtube.com/watch?v=bw50qsH5aDs

Andhy

I like making good quality improvement both for my self and my surroundings. I also enjoy learning something new and sharing my thought with other people.

You may also like...

21 Responses

  1. asop says:

    Wah, Mas, satu kali pengalaman saya ke luar negeri, ke Singapura, cuma pake SQ (S’pore Airlines). Dan itu nyamaaaan banget meski cuma kelas ekonomi desak-desakan. :D
    Tauk deh gmn kalo garuda… :-D

  2. Fonega says:

    Dubai itu negara mana yah? kok ga asing tapi lupa –’

  3. Cahya says:

    Saya mungkin tidak akan tahan berada di negeri sepanas itu, Jogja saja sudah bikin gerah di musim kering ini.

    Mungkin saya memilih ke negeri yang lebih sejuk jika sempat berwisata, itupun kalau ada duit :D.

  4. tuxlin says:

    mantap nyampai dubai, btw liat al buruj gak?? :roll:

    • Andhy says:

      @Cahya, Panas banget kalau di luar, tapi kalau di dalam gedung selalu dingin. Pada siang hari waktu dijalan, AC mobil pun seperti ga ngefek :hammer:

      @Tuxlin, adanya Burj Al Arab dan Burj Khalifa, keduanya adalah Hotel :shkhand:

  5. @helgaindra says:

    wah dubai itu kota yang ingin saya datangi suatu saat

    kali aja bisa belanja disana
    fufufu

    btw lama juga yah 8 jam naek pesawat ckckck

  6. Wah, enaknya jalan-jalan ya, apalagi sampai Dubai, surganya fasilitas uptodate. hehe.

  7. aming says:

    jadi pengen keluar negri, tapi ngga jauh2 dulu lah, ke prancis aja maunya…”Prapatan Cimanggis”

    :lol:

  8. Harganya mahal-mahal apa lebih murah bos ketimbang di Jawa Tengah? :-D

  9. Andhy says:

    @wandi, ono rego-ono rupo, mas :roll:

  10. Kaget says:

    Semua tergantung harga, kalo cuma jalan2 boleh sih, tapi apa tahan kalo ngga belanja? :(

  11. asti says:

    Jalan2 pastinya menyenangkan dunk… Jalan2 tanpa membeli buah tangan rasanya juga hampa. Tapi apalah dikata klo kita sadar bahwa kita harus cinta akan produk2 dalam negeri sebagai wujud cinta akan bangsa kita.
    Wkwkwkwkw…. :-D

  12. Hafidh says:

    Mas, kata temenku, kalo ga pakai emirates airline, visanya suka susah didapat..bener ga ya mas? Kebetulan november ini rencananya mo training disana juga…

  13. Erika says:

    InsyaAllah thn depan 2013 bisa ke Dubai juga… Biarpun 45 derajat tapi kalo gratisan dari bisnis saya gak bakal nolak, itung2 latihan kalo nanti umroh/haji, amien YRA… Salam kenal mas Andhy :)

  14. Oppie_chantique says:

    Kepengeeennnn ke Dubhaiiii..brapa ya biaya ksana tuuhh.., tiketnya brapa, hotelnya brapa..kira2 budget yg dbutuhkan brapa, minus uang belanja ya, itu kan tergantung mau bshopping or not..hehee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>