Gerbong Baru Kereta Api Argo Dwipangga

Kemarin kami pergi ke Solo untuk keperluan pribadi. Kami berangkat ke Solo dengan pesawat Garuda Indonesia dari CGK ke SOC dengan tiket paling murah saat itu, sub class B, yang merupakan tiket promo. Meskipun tiket promo namun karena peak season dan proses belinya mendadak, tiket promo ini pun jatuhnya mahal juga meskipun saat aku bandingkan dengan beberapa maskapai lainnya ratenya masih lebih murah dari maskapai lain untuk jam penerbangan itu. Seperti biasanya, ketika sampai di Bandara SOC yang letaknya di luar kota selalu saja transportasinya susah. Sampai saat itu media transportasi hanya ada taksi itupun taksi yang tidak pakai argo alias borongan bayar di depan sehingga jatuhnya cukup mahal untuk jarak jauh :( . Saat itu transportasi ala busway di Solo yaitu Trans Batik rutenya belum ada yang sampai ke Bandara Adi Sumarmo tersebut.
Well, kalau berangkatnya menggunakan pesawat, namun baliknya ke Jakarta kami menggunakan Kereta api saja supaya lebih hemat. Kereta api yang digunakan adalah kereta api Argo Dwipangga dari Stasiun Solo Balapan tujuan Stasiun Gambir. Tiketnya pun aku beli manual di Stasiun Solo Balapan karena dua hari aku menelpon call center kereta api sesuai dengan yang tertera di website resmi kereta api namun hanya mendapatkan jawaban dari mesin IVR (Interactive Voice Response) saja. Meskipun sudah mengikuti perintah IVR tersebut tidak ada jawaban dari agen call centernya sampai call terputus dengan sendirinya :-| . Huh, biasanya mencoba menelfon sekali juga bisa tapi entah kenapa kemarin menelfon beberapa kali dalam jangka waktu dua hari dari pagi hingga sore hari hasilnya sama seperti itu semua. Parah sekali :!: .

Tentang kereta api Argo Dwipangga, ternyata kereta api Argo Dwipangga yang saat itu aku gunakan memiliki gerbong baru mirip dengan gerbong baru kereta api Gajayana yang dulu pernah aku gunakan dari Solo ke Jakarta . Jadi gerbong kereta api Argo Dwipangga tersebut terlihat masih baru dan memiliki pintu penutup bagasi tempat menaruh barang di atas tempat duduknya yang mirip pada bagasi tempat duduk pada pesawat. Perbedaan gerbong kereta api Argo Dwipangga ini dengan gerbong kereta api Gajayana terletak pada lampu baca. Kalau pada gerbong kereta api Gajayana terdapat lampu baca di bawah bagasi tempat duduk, namun pada kereta api Argo Dwipangga tidak terdapat lampu baca.
Kereta api Argo Dwipangga tersebut ternyata juga menyediakan majalah gratis yang berjudul REL seperti majalah yang terdapat pada kereta api Ekspress Malam Bima. Fasilitas standard gerbong eksekutif lain seperti stop kontak, bantal, dan selimut juga terdapat pada gerbong kereta ini. Saat itu aku memanfaatkan stop kontak tersebut untuk mengisi batre ponsel Blackberry Javelin ku yang sedang kehabisan batre karena lupa mengisinya sebelum berangkat. AC pada gerbong tersebut menurutku dingin sekali sehingga menurutku lebih cocok disebut pendingin dari pada disebut Air Conditioner. Dinginnya saat itu lebih parah lagi karena di luar sedang hujan rintik-rintik. Karena dinginnya, akhirnya aku memesan makanan yang dapat menghangatkan badan dengan memesan mie rebus dan teh manis panas. Mie rebusnya disajikan dalam mangkok yang diberi penutup dari plastik sedangkan minuman tehnya disajikan di dalam wadah seperti semacam sterofom untuk menyajikan kopi starbuck dengan ukuran yang lebih kecil. Sayang aku tidak mengambil gambar keduanya karena buru-buru dimakan untuk menghangatkan badan. Saking barunya gerbong kereta api tersebut bahkan di papan sandaran yang digunakan untuk makan pun masih ada plastiknya he..he.. Untuk cara memesan makanan, cara memesan makanan di kereta api Argo Dwipangga tersebut masih manual dengan cara memesan kepada petugas kereta api yang bertugas di sana, jadi ini tidak seperti yang ada pada kereta Taksaka yang saat dulu aku menggunakan kereta tersebut selain dapat memesan dengan cara manual, penumpang juga dapat memesan makanan via sms.

Beberapa hal yang menurutku kurang dari kereta api ini adalahselain pendinginnya yang terlalu dingin, layanan selimutnya juga sudah diminta padahal lokasinya saat itu masih di Karawang, jadi masih sangat jauh dari stasiun Gambir sedangkan udara AC saat itu masih dingin sekali meskipun malam sudah mulai berganti dengan pagi dan matahari sudah mulai mengintip dikegelapan. Hal lainnya adalah kereta api tersebut terlambat sampai di stasiun Gambir dengan waktu terlambat yang kurang lazim sehingga saat itu sampai di sana sekitar jam setengah delapan pagi.

More on AndhySukma.com :

Traveling to Bratislava
Traveling to Vienna
Traveling to Bali
Balekambang : Taman Asri di kota Berseri untuk Rekreasi
Agrowisata Sondokoro, Tempat Wisata di Pabrik Gula
Cilacap-Pantai Teluk Penyu& Benteng Pendem
Banjarmasin : Pasar Terapung & Permata Martapura

28 thoughts on “Gerbong Baru Kereta Api Argo Dwipangga

  1. Saya dulu pernah sekali saja ke Jakarta dari Jogja dengan kereta api, kelas eksekutif jika tidak salah. Tapi kemudian, saya berharap tidak akan pernah naik kereta api lagi, kecuali terpaksa.

    1. @wien, yup. Sayangnya kereta api tidak ada kartu loyalitas semacam Garuda Frequent Flyer (GFF). Kalau ada saya pasti sudah platinum tuh :roll:

  2. Harga tiketnya mahal tapi pasti gak semahal tiket Jayapura-Solo :-p
    (lagian gak ada penerbangan Jayapura-Solo, paling banter turun di Jogja)

    Ah..jadi kangen ke Solo. Kangen ke Pasar Klewer, beli jajanan dan batik disana :-D

    1. @giewahyudi, kalo naik ekonomi sudah tidak kuat euy. :)

      @Zee, memang harus pake jaket tebal kalo pas di kereta eksekutif. Kebanyakan AC nya terlalu dingin.

      1. Yakin nggak kuat sekarang, mas @AndhySukma? KA Ekonomi sekarang ber-AC, jauh dari kata kumuh, bobrok, kucel, dan lain-lain. Sistem tempat duduk udah bernomor, maksimal 100%, nggak ada yang berdiri, nggak ada lagi asongan.

  3. Kagak pernah naek Garuda :( dari fotonya keren banget yak di dalamnya >.<

    Itu kereta apinya seru sepertinya,, jadi kangen naek kereta deh :)

    1. @alamendah, Naik pesawat terus ya, pak?

      @niee, seru karena gerbongnya masih baru. Tapi dingin banget. kalau gerbong yang lama kadang-kadang ada kecoak di dalam gerbongnya. :hammer:

      @sawali, Alhamdulillah sampai saat ini aman. Untuk nyaman tergantung dari penilaian masing-masing :)

      @iam, kalau ke Jakarta si ngelawan arus mudik.
      Jadi masih mudah mendapatkan tiketnya. kalau sebaliknya nyari tiketnya antri puanjang loh :-D

  4. entah kenapa tak suka naik kereta api sayanya, jika lewat darat lebih memilih naik bis. mungkin karena pemandangannya dan biar bisa lihat daerah² orang, yg bis lebih memungkinkan dari pada kereta.

    1. @sugito, dicoba sekali-kali mas :)

      @Mhd, ada plus minus antara naik kereta api dan naik bus. Untuk jarak dan waktu tertentu, kedua parameter tersebut fluktuatif sehingga mempengaruhi enak dan tidak enaknya menggunakan moda transportasi tersebut

    1. @hanif, Ada om. Satu-satunya kelas Argo yang bukan nama gunung dan nama bunga :)

      @zhanaz45, Makanannya cukup menghilangkan dinginnya pendingin :hammer:

  5. Hahaha, saya baru tahu ada kereta api bernama itu. Saya cuma pernah naik kereta Jakarta-Sby, Sby-Bandung, sama Sby-Jogja. Argo Bromo, Argo Bromo Anggrek, Turangga, Argo Wilis, sama Sancaka. :)

    Kaca jendelanya yang seperti pesawat itu, ‘kan, vertikal? :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>