Malu itu…?
Pernahkah Anda iseng melihat tanda dilarang merokok di suatu tempat umum? Kemudian pernahkah juga Anda memperhatikan di sekitar tulisan itu ternyata banyak orang yang merokok? Yak, kejadian itu sangat banyak ditemui di sekitar kita. Saya yakin mereka itu tidak ada yang tidak bisa membaca, namun mereka cuek dan tidak merasa malu melanggar larangan itu.
Yak, “malu” itulah kuncinya. Rasa malu, ora ilok, pamali, atau kata apapun yang sejenis yang merepresentasikan hal serupa itulah yang telah hilang dari kebanyakan orang-orang tersebut sehingga tanpa merasa bersalah meski sudah melanggar aturan.
Kalau aturan yang sudah jelas-jelas tertulis saja banyak yang melanggar, lalu bagaimana dengan aturan yang tidak tertulis? Yah kira-kira sebelas dua belas lah. Sebagaimana kita tahu, bahwa di dalam bermasyarakat berlaku suatu aturan tidak tertulis dan menjadi adat, norma, manner dalam melakukan sesuatu. Aturan ini memang tidak mengikat dan tidak ada sanksi yang jelas namun ini adalah suatu kebiasaan lumrahnya seseorang seharusnya berprilaku.
Aturan semacam ini biasanya dapat dinalar, wajar, dan muncul dari kearifan lokal yang merupakan kesimpulan hasil iterasi dan filterisasi berbagai macam perilaku yang pernah terjadi puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya.
Misalnya saja dalam antrian membeli tiket pasti tidak ditulis bahwa antrian yang lebih depan dilayani terlebih dahulu namun semua sudah tahu bahwa default suatu antrian adalah FIFO (First In First Out). Lalu bagaimana perasaan dan reaksi Anda jika dalam suatu antrian pas seharusnya giliran Anda yang dilayani namun ternyata ada orang yang seenaknya saja menyerobot antrian tanpa basa basi sekedar meminta ijin terlebih dahulu? Tentu saja paling tidak akan muncul perasaan jengkel kan? Hal tersebut kemarin aku alami. Jadi kemarin ceritanya pas antri tiket dan pas giliranku, tiba-tiba ada orang yang dengan seenaknya mendahului antrianku. Memang si pada saat itu antrian tidak panjang, hanya tiga atau empat orang yang antri dan saat itu aku pun tidak terburu-buru jadi aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Namun tetep saja ada perasaan jengkel. Dari pada memendam perasaan jengkel sehingga aku berbicara ke orang itu yang intinya supaya lain kali jika antri lagi jangan menyerobot seperti itu. Si orang ini hanya menoleh dan diam saja ga berkata sepatah katapun.
Padahal ekspektasiku saat itu ada penjelasan kenapa ia menyerobot antrian. Wew..
Lagi-lagi, kata “malu” inilah yang hilang dari para penyerobot antrian seperti itu.
Kalau Anda ragu, hilangkan keraguan Anda. Namun kalau Anda malu, maka sebaiknya pikirkan baik-baik untuk menghilangkan kemaluan Anda.
![]()
![]()
![]()
30 May 2011 at 6:58 pm
wah saya juga pernah di terobos antrian mas
waktu beli minyak tanah -_-”
mungkin bukan krn gk ada malu tp krn ada urusan :D
btw blognya keren mas andy
30 May 2011 at 7:27 pm
Siapasih yg tak pernah melanggar aturan…?
30 May 2011 at 7:28 pm
betul mas Andhy…yg jelas2 sudah tertulis saja masih dilanggar apalagi yg ngga tertulis
dan untungnya saya masih punya malu, dan tidak pernah punya niat untuk menghilangkan kemaluan saya itu…wakakak
30 May 2011 at 8:30 pm
@ichsan, kalau diterobosnya dengan ijin baik2 dan saya tidak lagi terburu2, maka saya biasanya mempersilakan saja.
@wien, makanya itu saya tulis, jika malu maka perlu mempertinbangkan masak-masak kalau mau menghilangkan kemaluan :rol:
31 May 2011 at 1:29 am
jujur saja, saya kadang2 masih belum bisa istikomah utk taat aturan, mas, hehe …, khususnya yang larangan utk tidak merokok itu, hiks. mudah2an sedikit demi sedikit mulai bisa bersikap istikomah utk taat aturan.
31 May 2011 at 5:16 am
Rasanya gak bs terlalu menyalahkan para perokok itu mas. Selain karena “kemaluan” yg sudah lepas dari tempatnya,para pembuat peraturan pun setengah hati dalam menerapkan peraturan yang dibuatnya
31 May 2011 at 5:23 am
Yah,kita memang harus kembali memulai pembudidayaan tertib,paling tidak dari diri kita dan dari lingkungan terkecil kita,agar jangan sampai budaya malu ini terangkat dari muka bumi
31 May 2011 at 9:01 am
bagaimana perasaan dan reaksi Anda jika dalam suatu antrian pas seharusnya giliran Anda yang dilayani namun ternyata ada orang yang seenaknya saja menyerobot?
ooo… ini tidak sekali dua terjadi mas andhy, biasanya saya langsung bereaksi.
pernah bapak² saya ucapi bahwa bebek saja antri sambil cuek, itu bapak kaget. trus pernah juga di antrian kasir, ada suami-istri saya halangi pake trolly belanjaan, tetap sambil cuek, mereka sadar setelah orang² tertawa.
karena mereka tidak tau malu, jadilah saya tertarik untuk membuktikan, apakah benar² kebal malu? ternyata rata² tidak. hahaha…
31 May 2011 at 12:31 pm
@Sawali, semangat, pak. Menaati aturan adalah kewajiban, bukan hak
@ndaroini, betul mas. Pembuat aturan juga sepertinya seolah-olah sengaja membuat aturan untuk dilanggar
@alie, setuju Mas.
@Mhd Wahyu, sekali-kali memang perlu bereaksi untuk sekedar memberitahu mereka.
31 May 2011 at 12:43 pm
Kalo di hilang khan kemaluannya ntar ga’ ada cewek yang naksir xixixii..
Ough Link mass udah saya pasang di SINI..
31 May 2011 at 1:44 pm
Malu itu sesuatu yang sudah biasa terdengar diucapkan tapi juga terbiasa terlanggar :D
Mungkin ada yang mikir kalau aturan dibuat untuk dilanggar, sehingga tak jarang banyak yang seenaknya sendiri seperti tanpa ada aturan
31 May 2011 at 3:34 pm
@zhanaz45, ha..ha..ha..bisa saja
. Untuk link terima kasih atas pencantumannya.
@Sukadi, begitulah tipe orang Indonesia, Mas
31 May 2011 at 8:52 pm
Ngomong-ngomong soal “kemaluan” (rasa malu, maksudnya), Mas Andhy sudah baca posting-an saya yang ini? Gimana menurut Mas Andhy?
31 May 2011 at 9:22 pm
@Asop, tadi saya sudah baca. Emang si banyak yang sudah hilang kemaluanya
31 May 2011 at 10:43 pm
justru sebaliknya mas, yg punya malu itu berarti punya kemaluan.. hahhahaa
2 Jun 2011 at 6:01 pm
Saya pikir meski orang2 di tanah air masih banyak yang kurang taan peraturan, ternyata menempatkan mereka pada urutan terbawah dirasa kurang adil, mengingat perilaku orang2 ditempat saya ini jauh lebih buruk tabiatnya :D
Untuk antri saja, disini – kalau bisa nyerobot ya.. mengapa tidak? jika di hardik malah menyalak lebih galak” “hey, saya penduduk asli sedangkan kamu hanyalah pendatang.. – kami pantas dilayani lebih dulu dari kalian!!!?”
Mampus ngga sih?.
Anyhow, seneng udah bisa mampir kesini…
2 Jun 2011 at 6:35 pm
gambare uchu,.
3 Jun 2011 at 1:38 pm
@Giewahyudi, lha iya memang begitu. ga ada yang terbalik.
@Domba Garut, Di negara Mana itu, mas?
4 Jun 2011 at 8:57 pm
yah, mo gimana lagi, rasa malu orang indo kayaknya mau ngalahi rasa malunya orang barat
5 Jun 2011 at 11:16 am
pernah dengar juga bahwa malu itu sebagian dari iman
6 Jun 2011 at 11:58 am
atau mungkin seperti yang dipercaya beberapa orang, “Peraturan dibikin untuk dilanggar”
6 Jun 2011 at 2:26 pm
kata orang sih, aturan dibuat untuk dilanggar, ya hancur kan kalu gitu pemikirannya
berarti udah ga ada rasa malu
6 Jun 2011 at 5:59 pm
@Putu Yoga, ga semua seperti itu si. tapi emang banyak
@ muzyanur, sepertinya itu bukan Hadist, tetapi kata bijak saja.
@Ibnu, lebih tepatnya mungkin “kata sebagian orang”
12 Jun 2011 at 12:59 pm
iya juga sih, soal adap dan tata krama emang menjadi persoalan karena tidak tertulis sehingga kalangan anak muda juga sulit mengetahui apa yang musti dilakukan. hehehe.
15 Jun 2011 at 1:30 pm
@hanif mahaldy, seharusnya bukan menjadi persoalan kalau mau berfikir, coz aturan itu banyak yang masuk akal kok.
16 Jun 2011 at 11:55 am
huehehehe… kebetulan saya juga baru membuat post tentang orang yang tidak ngantri… kalo saya memang sering diserobot sih sepanjang umur saya… tapi susah mau berantemnya… soalnya udah tau salah malah galakkan dia… (otak jengkol)
19 Jun 2011 at 6:15 pm
@3sna, kadang memang sebagian aturan berlaku seperti itu, maen srobot.